Thursday, December 13, 2018

Tunggu Aku Sebentar Lagi

Maafkan aku kali ini. Aku tak mengapa jika kau akan marah besar padaku. Aku bahkan sadar tak pantas menerima maafmu. Maafkan aku yang sering kali pergi lalu kembali ketika hatiku hancur. Maafkan aku yang tak jarang melukaimu dengan tingkahku. Maafkan aku ketika tak selalu disisimu.

Kebebasanku selama ini buatku menjadi apa aku sekarang. Ketika kau hadir dalam hidupku dan akan menjadi setengah dari hidupku, aku sadar aku tak lagi bisa seperti dulu. Namun sebagian dalam diriku adalah pemberontak yang selalu menginginkan kebebasan. Tak siap jika harus meninggalkan semua ini. Dan aku harap kau ingat pula bahwa sebagian dalam hidupku pun masih tetap tertuju padamu.

Perasaan bahagia ketika di kelilingi mereka yang menyayangiku selalu menjadi bagian terbaik dalam hidupku. Ketika memutuskan bersamamu maka harus ku relakan mereka sebagian pergi dariku. Buatku merasa tak memiliki siapapun. Ah rasa ini begitu rumit. Bersama dengan bebasku aku menemukan mereka, dan dengan hilang nya bebasku maka semua itupun lenyap tak tersisa. Maafkan aku jika aku belum siap untuk itu.

Secuil ego dalam diriku masih berkuasa. Meski kecil tapi dia punya pengaruh besar dalam hidupku. Dalam setiap keputusanku. Rasa yang dulu pernah ku tanam, ternyata bertumbuh meski sempat mati. Rasa yang sempat ku pupuk ketika belum bertemu denganmu. Maafkan aku ketika rasa itu tumbuh saat aku bersamamu. Maafkan ku yang tak bisa memilih ketika rasa itu kini mekar.

Ya, ku tau kau akan sangat marah padaku. Marahlah. Aku akan menerimanya. Aku memang tak ingin kau pergi, tapi jika pergi adalah lebih baik untuk mu maka aku tak akan menahanmu. Aku tau aku tak layak menahanmu. Aku sadar tak pantas terima maafmu. Meski begitu aku benar-benar mengerti bahwa semua ini salah. Aku tau aku menyakitimu.

Aku ingin kembali jika kau masih menunggu. Rasa ini tak akan hilang begitu mudah. Tapi bisakah kau tetap menungguku untuk datang padamu? Aku sedang berusaha memupuk setiap rasa hanya untukmu. Jika saja kau mau menanti. Yah, meski aku bukanlah sosok yang pantas kau nanti.

Tapi permintaanku, bisakah kau tunggu aku sebentar lagi? Sebentar lagi saja. Hingga aku akan merelakan setiap rasa yang kembali tumbuh ini. Dan aku bisa merelakan dia bahagia bukan bersamaku. Dan akan ku jalani kisah kita dengan tulus.

Thursday, November 1, 2018

Lardi Riauan Jais

Kali ini gw mau menceritakan tentang seorang Lardi. Seorang pria yang sempat gw sukai tapi gw gak pernah benar-benar memulai kisah dengannya. Biar gw ceritakan tentangnya lebih lanjut.

Awal perkenalan kami tidak pernah jelas dalam ingatan gw. Kalo kata dia sih, kami gak sengaja bertemu di sebuah jalan. Dan itu juga udah bertahun-tahun yang lalu. Sampe beberapa saat setelah itu, kami temenan di media sosial. Ada FB dan Path. Karna memang dia ini adek dari temen gw dulu, jadi gw pikir gak akan terlalu canggung juga temenan di medsos ama dia.

Gak salah juga donk gw komen atau ngucapin  sesuatu (selamat ulang tahun misalnya) ke dia. Semenjak itu kami mulai berinteraksi di medsos. Tapi gak sering dan gw juga gak terlalu inget soal dia. Dan kemudian gw menyadari dia sering me-react love di path untuk setiap aktifitas gw. Dari situ gw notice sama kehadiran dia. Lalu tiba2 dia me-react sad di salah satu activity gw di path.

Gw kira ini orang cuma sekedar iseng selama ini dan formalitas aja nge reactnya. Tapi melihat respon yang beda kali ini bikin gw jadi makin sadar ada sesuatu. Tapi gw gak mau ke geeranlah. Siapa dia dan siapa gw.

Setelah itu interaksi kami terputus dan di lanjutkan beberapa waktu kemudian,dia komen di foto IG gw. Cukup panjang hingga akhirnya kami pindah ke DM dan lanjut ke WA. Sejak saat itu kami jadi intens untuk ngobrol. Wah, anaknya menarik banget yah buat di ajak ngobrol. Asyik buat di ajak ketawa. Gw akui, waktu itu adalah waktu dimana gw sering ketawa. Pastinya karna dia. Setiap hari gw jdi punya chat buat di tunggu dan bahan baru buat diketawain.

Gw gak mau baper saat itu, karna siapalah gw ini. Dan gosipnya dia juga punya pacar. Yah, gak berapa lama kami ketawa2 bareng, kami berantem. Komunikasi kami putus. Karna gw udah terbias sama dia, gw jadi mencari. Mencari keberadaan dia. Eniwei, sejak pertama kami ketemu, kami belum pernah ketemu lagi. Jadi gw bener-bener gak pernah tau secara fisik tentang orang ini meski kami udah sering ketawa bareng bahkan berantem.
Gw coba mulai komunikasi lagi sama dia, berharap baikan. Yees! Baikan. Tapi gak bertahan lama. Begitulah cerita kami, gak pernah benar-benar jelas. Dan gw belajar untuk  gak baper sama dia. Tapi emang gwnya aja yang gampang baper. Hufft
Baikan, berantem, putus, baikan, berantem, putus. Sampe pertengahan tahun dia ngechat gw dan ngobrol baik trus ngajak gw ketemuan. What!! Gw gak tau sih artinya ini apa. Seneng, tapi gak boleh baper.

Kami ketemuan dan dia bilang "you're prettier than your photo". Makasih loh. Tersanjung saya. Obrolan kami tidak menjurus (menurut gw), dan makin intense lagi, dan seperti biasa tiba2 dia hilang lagi. Gw yang udah terbiasa dengan keadaan ini jadi gak merasa tersakiti banget.

Beberapa bulan kemudian, he chat me again. Senang, kaget, tapi kali ini sadar udah gak boleh baper lagi. Trus dia bilang kalo dia suka sama gw sejak dulu. Well, thankyou so much but I know it late. Tapi paling gak ternyata selama ini gw gak bertepuk sebelah tangan. Orang yang gw suka, balik menyukai gw juga.

Yah, intinya kami memang tidak berjodoh. Semua cerita bareng sama dia adalah cerita yang sangat menyenangkan, banyak banget pelajaran yang dapat dari dia.
Di akhir tulisan ini, gw pengen mendeskripsikan beberapa hal tentang dia.
Baik, cukup dewasa, kritis, gak suka di kritik, mau menurut kadang2, ceria, supel, suka cari perhatian, selalu pengen bikin keceriaan buat sekitarnya, kadang suka marah (tapi gak ke gw), suka nyanyi, suka main musik (padahal gw suka banget cowo yang bisa main musik, kapan duet bareng kita?), penyayang adek, cukup royal, menghargai perempuan sih kadang, pengen tobat (rokoknyajuga yah).

Pesen gw : Jadilah dirimu sendiri, dan tetaplah di jalan yang benar.

Tuesday, October 23, 2018

Mirror

"The mirror will always tell you the truth about yourself. Be changed or be proud of it!"

Cobalah Berpaling!!

Biar aku menceritakanmu sesuatu. Tentang masa lalu ku yang sebenarnya buat aku tak percaya diri.

Dulu, aku tak bisa memandang diriku di cermin. Aku tak punya keberanian untuk menghadap dunia. Aku sadar aku tak semenarik mereka yang punya paras cantik dan mereka yang selalu mendapat apa yang diingini. Ya, dan aku pun tak selalu bersikap seperti mau mereka. Tapi selalu aku belajar bersikap tulus dan apa adanya tanpa prasangka. Berharap ada seseorang yang akan melihat ku tanpa penampilan luar ku. Melihat jauh ke dalam lubuk dan mata.

Karna rasa itu, tak selalu ku temukan pria pujaan hati seperti anganku. Lalu lama setelah itu, setelah perjalanan panjang cintaku, singgah di banyak hati lalu kecewa ku sadari ada beberapa mereka yang mencintaiku dengan tulus. Selayaknya inginku. Lucu!! Kali ini terasa lucu, ketika ku sadari kini bahwa dia tak mampu lepas kan aku. Mengapa?? Ya, itu jugalah yang jadi pertanyaanku. Aku yakin aku masih tak secantik mereka yang lain. Akupun masih bersikap seperti dulu, sesukaku!

Lalu apa yang buat dia tak mampu jalani hari tanpa diri ini? Apa aku sekeren itu? Iya, aku memang terlalu keren untuk kau sukai lalu kau tinggalkan. Terlalu keren untuk kau sia-siakan. Berani bertaruh? Lepaskan lah aku, maka akan ada benih penyesalan dalam hatimu. Suaraku akan selalu terngiang di telingamu, dan bayangku masih akan membayangimu. Namun bukan itu inginku! Percayalah, aku terlalu keren untuk tak kau pandang.

Sombong? Aku tak ingin sombong, tapi mungkin memang hatimu melihat ketulusanku. Meski matamu bisa saja tidak, namun aku percaya hati bisa memandang jauh melebihi apa yang mata lihat.

Mungkin itulah hukum kekekalan, menuai untuk apa yang kau tabur. Ingin jadi sekeren aku, jadilah keren dari hati. Jadilah tulus dengan hatimu. Jadilah tulus bagi siapa saja. Aku yakin kau bisa sekeren apa yang kau mau.

Cobalah berpaling dariku, jika saja kau bisa!

Wednesday, October 17, 2018

Menikahlah bersama Hatimu!

MENIKAH!

Idaman setiap orang bukan? Yah tidak semua, paling tidak impian setiap wanita adalah menikah. Akhirnya sebentar lagi aku akan menikah. Bahagia? Entahlah. Aku tak mengerti rasa ini. Awalnya terasa sangat menyenangkan, seperti mendapat sebuah hadiah utama. Rasanya seperti  ingin segera terjadi. Sebulan menjalani masih menyenangkan, memasuki bulan ke 2 mulai terasa hal-hal yang mulai menjengkelkan tapi masih bisa di tolerir. Bulan ketiga rasanya makin menyebalkan. Tapi aku bisa apa? Karna bulan ketiga adalah penentuan akhir tentang keputusan menikah ini. Setelah itu maka aku tak boleh mundur.

Kata orang begitulah menikah, semakin mendekati hari H maka akan banyak masalah yang terjadi. Kali ini masalah kami bukan soal eksternal, tapi dari internal kami sendiri. Ini perkara sikap dan sifat. Aku yang keras kepala di tuntut untuk menjadi lebih lembut. Sangat sulit. Bahkan terlalu sulit bagiku. Bukan, bukan aku tak bisa berubah. Hanya saja dalam waktu sesingkat itu rasanya mustahil. Aku yang terlalu mudah bosan, aku yang terbiasa dengan kebebasan, aku yang sering melakukan hal sesuka untuk diriku sendiri harus meninggalkan itu semua dengan usahaku sendiri. 

Iyah sendiri, aku merasa berusaha sendiri. Aku tak terlalu peka apakah dia membantuku untuk berubah. Beginikah rasanya mau menikah? Terkadang aku menyesalkan ucapanku yang begitu gegabah. Atau aku menyesalkan kenapa hal itu terjadi begitu mudahnya. Mengapa begitu mulusnya semuanya terjadi. Apa memang begitulah yang seharusnya? Tak jarang aku sering bertanya dalam hati “Apa kau yakin akan menikah dengannya? Apa kau yakin bisa menghadapi dia yang seperti ini? Apa kau benar-benar sudah meyakinkan hatimu?

Saat tak ada jalan untuk kembali, tak ada jalan untuk mundur dan ketika semua pertanda tiba-tiba berubah menjadi negative lalu mengarah pada kegagalan dan aku bisa apa kini. Hanya bisa bertahan sambil memperbaiki. Tidak! Ini bukan karna orang ketiga. Ini benar-benar dari internal kami masing-masing. Karna hati ku yang sering kali jadi batu dan dia tak mampu hadapinya. Dan masalahnya kini ada pada diriku. Kebosanan yang ku rasakan karna semakin kesini, dia tak menjadi seperti harapku.
Aku hanya berharap agar hati ini bisa mengerti bahwa tak ada jalan kembali, dan ini lah yang sudah di putuskan. Jika tak punya pilihan untuk menolak maka jalani dengan sepenuh hati. 


Otak : “ Aku tau kau akan mampu hati, aku yakin kau bisa merubah keadaan. Bukankah selalu begitu. Sesakit apapun yang kau rasakan, kau selalu bisa menemukan yang orang lain tak mampu lihat”

Hati : “Akan aku coba, menerima dan menjalaninya dengan tulus.. Tolong ingatkan aku selalu…”

Menikah ternyata tak semudah itu. Menikah tanpa dimulai dengan perasaan yang telah ada lebih sulit dari menikah berdasarkan rasa yang telah lama disana. Diantara dua hati.

Tuesday, October 9, 2018

Erikh Nopendola Saragih

Kali ini aku mau bercerita soal pria yang pernah lama singgah dalam kisahku. Erikh Nopendola Saragih atau yang biasa ku panggil ENOS.

Aku bukanlah seorang yang bisa dipandang ketika pertama kali bertemu dengannya. Aku tak semenarik itu untuk bisa mengalihkan matanya padaku. Aku berjuang 4 bulan untuk menjadi “seseorang” dimatanya. Hingga akhirnya aku menyerah. Namun bulan kelima perjuanganku tak pernah sia-sia. Sejak itulah aku percaya bahwa setiap perjuangan tak pernah membohongi hasil. Kami memulai kisah kami tanggal 12 Februari 2012. Masa dimana dia butuh semangat dan aku butuh seseorang untuk ku semangati. Hanya 4 bulan kebersamaan kami, dan setelah itu kami harus terpisah jarak, aku harus berjuang ditempat yang lebih luas, dan dia harus berjuang dengan kuliahnya yang dia mulai lagi dari 0.

Kami sering kali bertengkar, tapi dari setiap pertengkarang kami semakin kurasakan aku tak ingin meninggalkannya. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dia membutuhkanku. Aku tak tau apakah ini yang sebenarnya atau hanya rasaku. Aku selalu ingin membuatnya tersenyum. Dia selalu berusaha terlihat yang terbaik dimataku. Dia selalu melakukan apapun yang bisa membuatku merasa bangga padanya. Dia selalu berusaha memahamiku. Dia selalu menyayangiku.

Yang ku tau dia selalu berjuang untuk membuatku bahagia. Dia selalu berusaha untuk bersikap bijak. Dia tak mau meninggalkan ku, bahkan ketika aku sudah pergi jauh. Dalam diamnya dia selalu berharap aku kembali dan tersenyum ketika aku akhirnya kembali.

Maafkan aku yang dulu pernah menyakiti hatimu dengan kepergianku.

Berkali - kali aku meninggalkannya, menyakiti hatinya bahkan ketika aku pergi bersama pria lain, entah mengapa dia selalu menerimaku kembali ketika aku tersakiti. Itulah sebabnya aku merasa bahwa dia selalu menyayangiku.

Dia selalu mendoakan yang terbaik untukku. Aku yang memutuskan untuk pergi, dan aku pula yang berpikir untuk kembali dan tetap dia menyambutku ketika aku datang. Dia merelakan aku bahagia dengan yang lain ketika dia tau dia tak lagi bisa buatku bahagia. Bukan karna dia tak mau, tapi ketika seseorang bukan jodohmu, maka sekeras apapun kau berusaha waktu akan membuktikan bahwa bukan dia yang menjadi bahagiamu.

Tak banyak yang ingin aku ceritakan tentangnya disini. Sudah terlalu banyak yang aku tuliskan tentangnya di blog ini. Dia selalu menjadi inspirasiku dalam memilih pria. Bukan, bukannya aku tak melangkah maju, aku pernah mendapat pria yang terbaik kala itu, maka ketika kami tak lagi bisa bersama, dan dia pun akan menjadi standarku untuk menemukan pria yang lain.

Terimakasih Enos, pernah menjadi bahagia ku, menjadi alasan aku tersenyum. Kenangan kita akan selalu tersimpan dalam hati. Bukan untuk membuatku tak dapat melangkah maju, namun untuk membuktikan pada diriku bahwa sejak dulu aku dikelilingi orang-orang yang mengasihiku dan menjadi sumber bahagiaku.

Dulu akupun selalu tulus mengasihi dan mendukungmu.

Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, kedua orang tuamu dan mereka yang kau sayangi. Semoga Tuhan akan selalu berada di sampingmu dan menuntunmu di jalan yang benar.

Friday, October 5, 2018

Herald Baxter Parhusip

Lagi pengen nulis tentang “The Man That I Loved Before” di blog ini. Dan kali ini pengen cerita tentang seorang pria yang bernama Herald Baxter Parhusip. Dan menceritakan tentang seseorang disini bukan berarti perasaan saat ini sama seperti yang di tulis. Gini, gini.. Maksudnya adalah mungkin ketika nulis ini rasanya seperti suasana, perasaan, dan cerita itu adalah cerita yang current. Tapi sesungguhnya cerita yang akan ditulis disini adalah cerita masa lalu. Cukup menutup mata, kembali ke masa itu dan semua perasaan akan seperti kembali dan dengan mudahnya menulis semua yang membahagiakan tentang dia. Jadi inilah ceritanya.



Tanpa di sadari ternyata kami sudah berteman di salah satu medsos. Hanya satu kalimat obrolan kami tanpa ada kelanjutan. Dan aku melupakannya, tanpa berpikir panjang dia siapa. Yang ku tau dia adalah junior ku di club yang dulu sempat aku ikuti di kampus. Itupun setelah kelulusan ku dari kampus tersebut barulah dia masuk ke kampusku. Jadi secara fisik memang kami tidak pernah bertemu. Gak pernah terbesit sama sekali bahwa kami akan punya cerita indah lalu kandas.

Yang selalu terlintas dalam benakku adalah hal indah tentang kami, tentang dia tentang memori yang kami lewati bersama. Ada begitu banyak tempat yang kami kunjungi berdua. Tanpa rencana kadang, dan tempat baru yang bahkan kami tak punya ide dimana letak tempat itu. Tapi selalu menyenangkan bepergian bersamanya. Dia selalu berusaha menjagaku kapanpun dan dimanapun. Menyemangati ku ketika jalan itu terlalu sulit, membuatku tersenyum meski kadang cuaca tak bersahabat. Aku selalu menemukan hal indah di balik setiap keresahan dan kesulitan yang kami hadapi.

Hingga kemudian dia menyerah dengan dirinya sendiri dan pergi karna keadaan. Meninggalkan ku disini sendiri. Akan ku ceritakan apa yang aku suka tentangnya. Dia seorang yang mudah sekali bersahabat. Ketika akhirnya kami bertemu di bahwa tenda malam itu. Dia tidur disebelahku. Hanya tau panggilannya “Ucip” *entah apa artinya* , aku mulai mengobrol dengannya. Mendengarkan lagu-lagu kesukaannya yang masih ku ingat sampai sekarang “Lost Star - Adam Lavign”. iyah kami nyaris mendengarnya berkali-kali. Dan sudah pasti membuatku terngiang-ngiang akan lagu itu. Tiap kali ku dengar lagu itu, maka dirinya lah yang terlintas dalam pikiranku. Sampai detik ini!


Tempat yang kami kunjungi bukanlah tempat tongkrongan anak muda zaman sekarang. Kami menghabiskan waktu untuk naik gunung, ke tebing keraton, ke curug *yang mungkin tak ada yang minat mengunjunginya* , tapi kami pergi kesana. Iya, tanpa dia mungkin aku tak akan pernah kesana. Dia selalu menyemangati ku setiap kali jalan terjal ada didepan mataku. Dan dia memujiku ketika aku berhasil melewatinya. Dia memberiku cerita lucu ketika aku mulai kesal lalu aku tertawa. Dia memberiku dongeng sebagai pengantar tidurku. Dia memberiku ruang berimajinasi. Berimajinasi bersamanya sungguh menyenangkan. Dia membela ku bahkan ketika aku tak pantas dibela. Dia memberiku puisi dan lagu. Dia tak banyak menceramahiku, dia tak suka menasehati ku tapi dia selalu membuat aku berpikir tentang hal yang ku lakukan. Dia tak selalu disampingku, terkadang dia membiarkanku untuk bersosial dengan yang lain. Ketika aku bersama temanku dia memberiku waktu dengan mereka dan menanti dengan sabar. Lalu kami akan habiskan waktu bersama tanpa mengeluh tentang temanku.

Dia meminta saran dan pendapatku, bahkan untuk hal sepele. Aku menyukainya dalam setiap hal kecil yang dia berikan padaku. Dia tak pernah marah ketika aku meninggalkannya sendiri, karna dia tau aku akan kembali. Tidak, dia tidak sempurna. Tapi yang pasti aku bahagia bersamanya.

Tapi mungkin memang aku bukan takdirnya. Itulah sebabnya perpisahan ini terjadi. Aku tak tau apa aku adalah bahagianya. Namun aku berharap agar momen bersamaku adalah juga kebahagiaan buat dia. I wish you the best Pangeran Matahari, Terimakasih pernah membuatku tersenyum dengan tiap tingkahmu dan perbuatanmu. Percayalah saat itu, bahagiaku bukan pura-pura.

Thursday, September 27, 2018

Erlina Megasari


26 March 2018. 
Cukup sulit menemukan foto kita jaman dulu ka..
Well, maybe it’s to late to write down about her. But for sure, I know that there is no late to share a story about someone. So, now I’m gonna tell you about a women named Erlina. She is a wife (now), she has one cute daughter and one handsome son.

Bukan belagu, sok2 pake Bahasa Inggris. Cuma bisa awalnya aja kok. Karna cerita ini terjadi di Indonesia, lebih enak ceritainnya pake Bahasa Indonesia juga. Jadi pertama kali ketemu sama kaka ini pas tanggal 1 Juni 2012. Waktu baru pertama kali mulai kerja di PT xxx (kaya di soal latihan accounting, ditutup nama perusahaannya). Kita kerja bareng di satu tim finance, yah bisa dibilang dia adalah senior saya disana *aseek pake saya, agak gimana gitu*.

Emang bener kata orang, kalo liat pertama kali dan kenal awal-awal orangnya tuh jutek banget. Pasti pada gak berani deh ngomong sama kaka ini. Yah, habisnya gimana mau berani, suka galak dia. Tapi awalnya aja itu mah. Coba deh deketin, pasti juga kerasa (galaknya makin jadi). hahahahaha

Gak..gak.. Dia baik, perhatian, suka ngerasa itu jadi tanggung jawabnya dia, agak cerewet sih (ngomongnya cepet), trus jujur (kadang terlalu jujur), suka sensitip kadang-kadang (ini pasti makin nyeremin deh). Nah, apa sih yang spesial dari si kaka ini sampe dia bisa jadi orang yang harus di deskripsikan di blog ini. Begini ceritanya …

*backsoundnya suara serigala, adegannya lagi tengah malam ada bulan purnama terang*

Serem? Yah gaklah! Itu hanya mendramatisir, suka kebawa suasananya sayanya. Waktu itu ceritanya gw masih anak bawang banget di kantor (ngerasa paling muda, manggil semua orang kaka atau abang, padahal waktu itu banyak kok yang gw panggil kaka dan abang ternyata seumuran gw, bahkan dibawah gw). Yang gajinya paling kecil, di suruh apa aja nurut, di suruh lembur gak dibayar juga mau aja, pokoknya mah apapun di lakukan lah. Secara masih anak baru banget. Nah dalam keadaan kaya gini, perhatian doi keluar, yang gampang kasian : “duh nih anak bawang, gajinya kecil, gajinya telat masuk, bisa makan kaga yah” . Suka begitu dia dulu, pokoknya dimata dia gw gak mampu beli makanan di PLAZA INDONESIA (emang iyah sih.. sedih… sampe sekarang tetep gak mampu kok). Jadi dia dengan baik hatinya menawarkan makanan dia yang dengan sengaja dia bawa lebih. Dan dulu ayam goreng buatan emaknya adalah favorit gw. Sekarang agak takut makan ayam.

Kalo pulang ke-malam-an dia bilang : “gitche nanti naik taxi aja, aku yang claimin. Kasih tau aja berapa ongkosnya”. Yah emang sih gw naik taxi, tapi kan kaa, aku gak punya duit buat duluanin. Jadi terpaksa naiknya harus mikir dari titik mana yang murah. Kecuali emang udah gak ada transport lagi. Yah dulukan gw balik nya ke Harapan Indah. Kota pelosok yang nun jauh disana. Kota sih, tapi kok jauh di pelosok dunia sana. Trus sempat gw keluar dari kantor itu karna merasa kontrak gw udah habis (emang udah abis aja sih), dan dia nelpon gw ngajak balik dan menjamin gw akan masuk. Hebat sekali kaka ini pikir gw. Baik banget. Dia loh yang menghasut Finance Directornya untuk bisa narik gw balik kesana.

Setelah ditelusuri ternyata doi ini anak bungsu yang tak punya adik. Alhasil jadilah gw di perlakukan sebagai adeknya. Pokoknya mah kek punya kaka kandung (pan ceritanya ana tak punya kaka perempuan). Kemaren kena macet, hari ini pagi-pagi dimeja pasti ada cokelat silverqueen untuk ngobatin mood yang kemaren rusak gara-gara macet. Dari siapa?? Yah dari abang Ind****et. Yah gak lah! Dari dia. Kadang cadbury, banyak deh makanannya.

Nah si kaka yang satu ini dulu suka banget sama Shawn The Sheep. Ketika gw lagi jalan-jalan di Atrium, nemulah gw satu frame yang bergambar kan si domba domba ini. Karna emang gw juga orangnya random, yah gw beliin lah satu yekan. Pas tahun baruan gw kasih lah itu ke doi sebagai hadiah tahun baru. Ampe sekarang nih, ampe pas gw nulis ini gak tau deh apa itu frame udah di isi foto apa kaga. Trus keknya juga sejak saat itulah doi makin baik dan perhatian ama gw. Mau makan di tanyain, ditawarin jajanan, dan yang paling gw inget di tawarin CHOCHO FRAPPE nya Mc Cafe. Dan kami jadi sering jalan ke Sarinah hanya untuk beli itu. And that's one of our favourite menu in McCafe.

Dan yang selalu gw inget juga adalah dia gak pernah lupa kasih gw kado ultah meski gw gak pernah ngasih dia kado ultah (ini sih agak ngerasa bersalah sih, entah kapan bisa ngasih). Tapi setelah dia nikah, gw jadi kehilangan jatah kado. Udah pindah prioritas. Hahahahaha(trus nangis).

Nope, it’s not a problem. Hadiah itu masih gw simpan kecuali tas kembaran yang di curi maling ( ). Sampe akhirnya ka Erlin nikah di tahun 2015 Desember, rasanya itu momen paling bahagia dia yang bisa gw ingat. Yah kalo gw ceritain bisa panjang banget ceritanya. Berhari-hari nanti. Trus gak cukup di blog ini. Ini aja gw rasa bisa 2 episode nulisnya.

Tapi tetap aja kok gw jadi adeknya dia. Sampe kami pisah dia masuk HR gw di finance dan kemudian gw nyusul doi ke HR dan akhirnya kami sama-sama keluar dari PT xxx tadi di hari yang sama. Such a great story kan? Gimana yah, 6 tahun kebersamaan kami disana, dari gw masih anak bawang, sampe jadi kaka-kaka yang harus ngasih teladan ke anak baru dan akhirnya kami keluar bareng dari situ. Dan dulu pernah denger kata pepatah ngasal “hubungan sebatas gerbang”. Itu gak berlaku buat kami ah, doi emang sibuk setelah punya dua anak. Tapi tetep gw usahakan dateng pas momen penting. Contohnya pas lahiran anak kedua kemaren.

Dan yang paling bikin gw bahagia dari dia adalah dia seneng banget ketika denger gw mau nikah. Mungkin karna dia tau kali yah gimana dulu ama mantan perjuangannya yang udah gak tau lagi mau dibawa kemana, and finally I met a men who’s going to be my spouse. Dia bisa ngerasain kebahagiaan  yang gw sendiri gak sadar. 



Hey kaka, thank you for always loving me and taking care of me before. Thank you for all things you’ve shared with me. Thank you for every story, moment, lesson and happiness. I wish you much happiness with abang, cia and adenya cia. You know I will always love you. Thank you for everything kaka.. :)

Monday, September 24, 2018

CURHAT di MedSos

Jadi gini rasanya mau nikah. Lumayan ribet. Sebenernya yang ribet itu pihak eksternal. Orang tualah, keluarga bokap or nyokap, orang adat dan mereka yang merasa cukup punya pengaruh disini. Iya, keinginan semua orang yang seperti harus di penuhi. Pengennya simple aja nikahannya, tapi kalo inget keinginan semua orang yang beda-beda rasanha cukup sulit bikin jadi simple.

Pengen batal nikah? Iyah!! Padahal gw baru mau mulai jalan. Tapi tiap kali kepikiran pengen stress or sejenisnya, hati langsung ngomong "Tuhan, kasih tau apa yang harus aku lakukan.. Aku gak mau terlalu pusing mikirin ini.. Aku mau yakin dan percaya kalo Tuhan bakal mencukupkan semuanya.."

Klise yah, tapi cuma itu yang bisa diharapkan. Dan itu yang bisa dikatakan. Saat ini, otak sedang menanamkan dalam pikiran bahwa" Everything's gonna be okay, as long as you believe in God". Harus percaya! Kalo khawatir itu sama dengan kita meremehkan Tuhan. Apa sih yang Tuhan gak bisa lakukan.

Curhat di sini bukan berarti sedang mengadu sama Tuhan. Karna bukan disini tempat mengadu. Berdoa, itu cara mengadu sama Tuhan. Dan nulis di sini hanya untuk mengeluarkan hal-hal yang memenuhi isi otak ini.

Gimana caranya untuk tetap percaya sama Tuhan dalam keadaan kaya gini. Itu yang harus selalu di tanamkan dalam pikiran.

Tapi kalo di pikir-pikir perasaan ini bukan soal uang. Bukan khawatir karna uang, tapi khawatir karna ekspektasi orangtua yang kayanya terlalu tinggi. Ah, entahlaah harus gimana. Cukup kecewa dengan respon mereka, tapi mungkin hanya kurang komunikasi. Terlanjur sakit hati, jadi biarkanlah pikiran ini tenang sejenak. Biar bisa melangkah maju.

Tuesday, September 18, 2018

"Melow Galau", Katanya

Entahlah, tapi akhir-akhir ini aku merasa terlalu gampang melow. Entah mengapa, tapi seperti aku punya kesedihan yang sangat sulit di jelaskan. Aku seperti tak ingat apa alasan dibalik terurainya air mata ini. Tapi dia mengalir begitu deras, dan menyesakkan.

Kata orang, akhirnya aku tiba pada masa dimana aku tak akan lagi galau. Tapi mengapa justru ini terasa menyedihkan. Bercerita pada siapa? Tak ada! Cuma bisa dipendam sendiri tanpa ada yang tau. Menangis sendiri, tanpa berharap adap yang mengerti. Perasaan ini terulang kembali. Duduk sendiri dengan kebingungan yang mengisi.

"Lalu aku harus apa?" Kalimat klasik yang sering muncul di otakku tanpa pernah menemukan jawaban meski secuil.

Sedih ini, sesak ini tak mampu aku pahami. Mengapa aku menangis bila tak ada alasan kritis? Mengapa terasa kecewa bila tlah kutemukan belahan jiwa.

Ingin marah, ingin teriak, tapi aku bisa apa?

Memahami diriku sendiri pun aku tak kuasa. Apa yang ku cari, hingga aku merasa kehilangan? Lalu apa yang aku tunggu hingga merasa tak lagi mampu?

Perasaan ingin dipahami, buatku terlalu mudah tak percaya diri.

Entahlah mungkin aku yang tak paham diriku sendiri.

Thursday, June 14, 2018

Lo itu SAMPAH!!

Orang kaya apa yang lo bilang sampah?

Jangan terlalu cepat bilang orang lain itu sampah. Hanya sampah yang berani bilang orang lain sampah. Karna orang yang bijak gak akan mandang rendah sekitarnya. Bahkan seburuk apapun mereka, gak pernah disebut sampah.

Lalu apa yang salah berteman dengan orang yang kalian sebut sampah? Bukankah kita harusnya berteman dengan siapa aja? Kalau pun ada hal yang salah sama mereka, bukannya lebih mudah ngasih tau dan bantu berubah ketika kita sudah bergaul bareng mereka?

Kemudian apa indikator orang yang jadi sampah? Kalo hanya karna 1 atau 2 hal, berarti semua orang adalah sampah. Karna tiap orang pasti punya sisi buruknya masing - masing. Tapi apa mereka sesampah itu dimata kalian?

Ketika kalian menilai dan menghakimi mereka sampah, maka kalian pun adalah sampah...

Intinya don't judge people. It's not you job to judge. Your task is to take them to Jesus. Shows what the truth is. Love your neighbors. Love your enemy.

Thursday, May 3, 2018

Eben Heazer Silaen 2

Dipostingan sebelumnya, kira-kira 3 post sebelum ini dengan judul yang sama ada yang comment minta part 2 nya. Well dengan berat hati gw akan menuliskan part dua dan mungkin terakhir dari kisah ini.

Setelah kejadian itu berlalu, aku cuma bisa berharap tipis bahkan berusaha tak berharap apa-apa. Tapi entah kenapa sekarang ini aku hampir tak mudah untuk menyukai seorang advent (yang dimana ini adalah kriteria utamaku dalam mencari pasangan hidup yang sah). Jadi bisa ku katakan bahwa dia adalah orang advent terakhir yang pernah ku suka sampai saat ini. Tepatnya sampai postingan ini di tulis. Suka dan berharap bahkan nama dia tak pernah lupa ku sebut dalam doaku.

Tapi mungkin saja yang mahakuasa tak berkehendak menjodohkan kami. Kadang aku berpikir kenapa harus muncul rasa suka jika memang kami tak berjodoh. Kenapa yah rasa suka itu tak muncul hanya ketika aku bertemu dengan orang yang benar-benar di izinkan jadi jodohku. Rumit! Oke, back to topic.

Dan ketika aku udah ngerasa pupus, tak punya harapan sama sekali, ada di titik terendah bahkan dibawah 0, aku putuskan untuk menyampaikan semua rasa ini ke dia. Sebenarnya aku yakin bahwa dia pun tau. Yah dan aku tau pasti bahwa dia tau soal rasa ini. Aahh, ingin rasanya menangis saat menulis ini.

Ku sampaikan padanya tentang mengapa aku bisa menyukainya, dan mengapa aku bisa tak mampu untuk bicara dengannya, dan mengapa aku menghindar. Aku memang mengharapkan jawaban dari dia. Tapi aku tau itu tak akan terjadi. Jawaban dari seorang introvert parah, tak akan ada dalam hal seperti ini. Biasanya mereka memilih menerima keadaan aja, tak ada minat untuk merespon bahkan memperbaiki nya atau menuntut penjelasan.

Yah, dan memang tak ada sedikitpun respon dari dia. Kadang aku menyesalkan pernah menyampaikan hal itu padanya, karna tiba-tiba muncul dalam benakku bahwa dia sama sekali tak peduli soal itu. Lalu aku? Semakin sedih!! Ingin aku meraung-raung rasanya. But, life must move on!

Lama tak ku dengar kabar tentangnya, hingga kemudian aku bertemu dengan temennya dan dia bilang bahwa pria yang ku sukai akhirnya punya pacar! Iya, pacar! Pengen nangis lagi? Bangeeeet!! Sedih hati adek, bang! Kok tega kali abang kasih berita ini sama adek. Tapi apa boleh buat, kalo bukan jodoh, untuk apa kutangisi kepergiannya.

Sekarang yang bisa aku lakukan cuma berdoa dan berharap kalo yang mahakuasa akan mengirim satu orang advent sebagai jodohku untuk ku sukai. Dan yang pasti harus bisa aku bawa ke masa depan. Amiin..

Semoga, abang baik-baik disana yah bang. Adek harap wanita itu adalah adek, tapi ternyata tak. Adek berdoa yang terbaik buat abang.

Gelsey Ranya Samosir

Happy Birthday boru Pudan! Gelsey Ranya Samosir..  Namanya berarti Bunga yang menyenangkan. Dengan doa yang mengiringi semoga dia kelak mene...