![]() |
26 March 2018.
Cukup sulit menemukan foto kita jaman dulu ka..
|
Thursday, September 27, 2018
Erlina Megasari
Monday, September 24, 2018
CURHAT di MedSos
Jadi gini rasanya mau nikah. Lumayan ribet. Sebenernya yang ribet itu pihak eksternal. Orang tualah, keluarga bokap or nyokap, orang adat dan mereka yang merasa cukup punya pengaruh disini. Iya, keinginan semua orang yang seperti harus di penuhi. Pengennya simple aja nikahannya, tapi kalo inget keinginan semua orang yang beda-beda rasanha cukup sulit bikin jadi simple.
Pengen batal nikah? Iyah!! Padahal gw baru mau mulai jalan. Tapi tiap kali kepikiran pengen stress or sejenisnya, hati langsung ngomong "Tuhan, kasih tau apa yang harus aku lakukan.. Aku gak mau terlalu pusing mikirin ini.. Aku mau yakin dan percaya kalo Tuhan bakal mencukupkan semuanya.."
Klise yah, tapi cuma itu yang bisa diharapkan. Dan itu yang bisa dikatakan. Saat ini, otak sedang menanamkan dalam pikiran bahwa" Everything's gonna be okay, as long as you believe in God". Harus percaya! Kalo khawatir itu sama dengan kita meremehkan Tuhan. Apa sih yang Tuhan gak bisa lakukan.
Curhat di sini bukan berarti sedang mengadu sama Tuhan. Karna bukan disini tempat mengadu. Berdoa, itu cara mengadu sama Tuhan. Dan nulis di sini hanya untuk mengeluarkan hal-hal yang memenuhi isi otak ini.
Gimana caranya untuk tetap percaya sama Tuhan dalam keadaan kaya gini. Itu yang harus selalu di tanamkan dalam pikiran.
Tapi kalo di pikir-pikir perasaan ini bukan soal uang. Bukan khawatir karna uang, tapi khawatir karna ekspektasi orangtua yang kayanya terlalu tinggi. Ah, entahlaah harus gimana. Cukup kecewa dengan respon mereka, tapi mungkin hanya kurang komunikasi. Terlanjur sakit hati, jadi biarkanlah pikiran ini tenang sejenak. Biar bisa melangkah maju.
Tuesday, September 18, 2018
"Melow Galau", Katanya
Entahlah, tapi akhir-akhir ini aku merasa terlalu gampang melow. Entah mengapa, tapi seperti aku punya kesedihan yang sangat sulit di jelaskan. Aku seperti tak ingat apa alasan dibalik terurainya air mata ini. Tapi dia mengalir begitu deras, dan menyesakkan.
Kata orang, akhirnya aku tiba pada masa dimana aku tak akan lagi galau. Tapi mengapa justru ini terasa menyedihkan. Bercerita pada siapa? Tak ada! Cuma bisa dipendam sendiri tanpa ada yang tau. Menangis sendiri, tanpa berharap adap yang mengerti. Perasaan ini terulang kembali. Duduk sendiri dengan kebingungan yang mengisi.
"Lalu aku harus apa?" Kalimat klasik yang sering muncul di otakku tanpa pernah menemukan jawaban meski secuil.
Sedih ini, sesak ini tak mampu aku pahami. Mengapa aku menangis bila tak ada alasan kritis? Mengapa terasa kecewa bila tlah kutemukan belahan jiwa.
Ingin marah, ingin teriak, tapi aku bisa apa?
Memahami diriku sendiri pun aku tak kuasa. Apa yang ku cari, hingga aku merasa kehilangan? Lalu apa yang aku tunggu hingga merasa tak lagi mampu?
Perasaan ingin dipahami, buatku terlalu mudah tak percaya diri.
Entahlah mungkin aku yang tak paham diriku sendiri.
Gelsey Ranya Samosir
Happy Birthday boru Pudan! Gelsey Ranya Samosir.. Namanya berarti Bunga yang menyenangkan. Dengan doa yang mengiringi semoga dia kelak mene...
-
Dear Gwen.. Pernah seseorang bilang ke mama, kalo ulang tahun yang pertama harus dirayain spesial. Karna banyak bayi yang gak bisa melewati ...
-
Aku duduk terdiam di kursi penonton di Lapangan Basket. Entah apa yang terlintas di pikiran ku. Aku hanya merenung, apakah ini adalah saat...
-
Untuk Pria yang pernah berbagi kisah denganku Selamat sore, Aku hanya ingin menyapamu melalui surat ini. Dan aku juga ingin menyampaikan...

